Memasuki bulan Ramadan, kegiatan pembinaan di lembaga otonom MUI Kota Semarang itu tidak diliburkan, bahkan semakin diintensifkan.
Santri Rumah Muallaf Kota Semarang yang terdiri dari mualaf tetap mengikuti kegiatan belajar mengaji dan kajian keislaman secara rutin setiap pekan.
Ketua Rumah Muallaf Kota Semarang, H. Nur Fuad, menyampaikan bahwa jadwal pembinaan yang rutin diadakan di jalan Bukit Dingin No.C5 no 12, Permata Puri, Kec. Ngaliyan, Kota Semarang justru semakin intensif, tidak berubah selama Ramadan.
“Puasa tidak libur, justru teman-teman makin gas, mereka sangat bersemangat. Kegiatan tetap berlangsung setiap minggu pukul 08.00 hingga 12.00 WIB,” ujarnya, Miunggu 22 Februari 2026.
Dalam sesi pembelajaran, para santri memperdalam bacaan Al-Qur’an, mulai dari tingkat dasar hingga tahsin. Proses mengaji dilakukan dengan sistem sorogan, yakni santri menghadap guru satu per satu untuk memperbaiki bacaan.
Setelah sesi mengaji, kegiatan dilanjutkan dengan kajian yang membahas akidah, fikih ibadah, serta praktik amaliah Ramadan seperti tata cara puasa dan salat tarawih.
“Pendampingan dilakukan secara bertahap agar para santri semakin percaya diri dalam menjalankan ajaran Islam,” sambung Fuad.
Menurutnya, Ramadan menjadi momentum penting bagi para mualaf untuk memperkuat pemahaman sekaligus praktik ibadah. Selain pembelajaran materi, suasana kebersamaan dan saling dukung juga menjadi bagian dari proses pembinaan.
“Mereka benar-benar seperti saudara, saling menguatkan. Kadang jalan-jalan bersama. Di Rumah Muallaf juga ada semacam barter dagangan antaranggota,” bebernya.
Pada salah satu agenda Ramadan, Rumah Muallaf Kota Semarang yang merupakan lembaga otonom MUI Kota Semarang itu akan menggelar buka puasa bersama yang dirangkaikan dengan peringatan milad ke-5.
"Kita akan menggelar peringatan milad ke-5, rencananya dihadiri Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Jawa Tengah serta sejumlah undangan," tukas Fuad.
Lima tahun berjalan, Rumah Muallaf Kota Semarang konsisten membangun pendidikan keislaman berbasis komunitas, memastikan para mualaf tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga memperoleh penguatan pemahaman dan pendampingan berkelanjutan.

0 comments